Dampak kemiskinan terhadap pendidikan

DAMPAK KEMISKINAN TERHADAP PENDIDIKAN
Dikutip dari makalah ilmu social dasar.
Nama : fushatun nufus S.pd.I
Smt : Alumni (PAI)
Institit Agama Islam Negeri (IAIN)
Sultan Maulana Hasanudin Banten

Sejak pertama kali manusia diciptakan kedunia, sampai nanati akhir kehidupan tidak pernah luput dari belajar, baik itu di sadari atau tidak disadari dari hal yang paling kita anggap sepele sampai perkara yang kita anggap besar dan sulit, semua dapat diketahui dengan belajar.
Semua orang berhak untuk dapat merasakan belajar atau pernah merasakan bangku pendidikan. Kesempatan tersebut tidak mengenal besar atau kecil, kaya atau miskin, tua atau muda, dikota atau didesa. Tuan dan budak, ketika kesempatan itu ada didepan mata maka semuanya berhak untuk merasakan pendidikan guna meningkatkan mutu hidupnya.
Merupakan salah satu fungsi pendidikan adalah menjadikan seseorang yang tidak tahu menjadi tahu, mendajikan orang yang sudah tahu menjadi semakin tahu agar tercipta kedewasaan dan kemandirian dalam menjalani kehidupan.
Segala bentuk pengembangan telah dilakukan oleh badan-badan pendidikan, agar segala tujuan untuk menjadikan dan mencetak generasi masa depan lebih baik. Akan tetapi semuanya tidak semudah yang kita bayangkan. Dalam pelaksanaan nya proses pendidikan membutuhkan biaya-biaya yang tidak
Sedangkan tidak semua lapisan masyarakat, berada pada lapisan atas, diantara mereka ada yang berada pada lapisan bawah. Pada lapisan inilah proses pendidikan menagalami hambatan.
Kemiskinan pun tidak dapat dihilangkan dalam hidup, sebab ini merupakan penyakit yang dapat hinggap pada siapa pun juga, dan proses pendidikan dapat terhambat apabila kemislinan tidak segera di tangani meskipun kemiskinan bukan satu-satunya factor yang dapat menghambat kelancaran proses pendidikan, akan tetapi apabila tidak segera ditangani maka dapat menjadikan akibat yang fatal dalam pendidikan.
Selanjutnya makalah ini akan membahas tentang dampak kemiskinan terhadap pendidikan, dan bagai mana caranya, proses pendidikan akan tetap berjalan ditengah-tengah kemiskinan yang merajalela.

Suprlan(1981)menyatakan kemiskinan adalah sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehiduapan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
Emil salim(1982)menyatakan bahwa mereka dikatakan berada dibawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok, seperti pangan, pakaian tempat berteduh dan lain-lain.
Kemiskinan secar umum berarti sedikit pemilikannya, sehingga sanagat nmembutuhkan bantuan orang lain. Meski dapat berarti miskin material atau miskin nonmaterial/ spiritual, sedangkan kemiskinan merupakan status kehidupan dengan pemilikannya nyang serba minin secara material atau spiritual.
Kemiskinan secara material berarti status kehidupan dimana pemilikan materi konsumsi untuk kehidupan sehari-hari tidak memenuhi untuk taraf minimalnya kebutuhan pangan, sandang, dan papan, sedangkan miskin non material adalah mereka yang memerkukan bantuan atau tuntunan stabilitas jiwanya dalam menatap kehidupan selanjutnya.
Kemiskinan merupakan salahh satu masalah yang dimiliki oleh manusia yang sama usianya dengan usia kemanusiaan dan implikasi masalahnya dapat melibatkan seluruh keseluruh asapek kehidupan manusia, tetapi sering tidak disadari kehadirannya sebagai suatu masalah dalam kehidupan masalahnya kemiskinan tersebut baru akan terasa apabila seseorang telah membandingkannya dengan orang lain yang lebih kaya atau lebih berada diatas kemampuan mereka, pada kelazimannya kemiskinan sering dilukiskan dengan kurangnya pendapatan kehidupan pokok seperti pangan, sandang, dan papan.

a. Istilah Al-Ta’lim
Istilah ini telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan islam, menurur para ahli, kata ini lebih bersifat universal disbanding dengan al-tarbiyah, maupun ta’dib,Rasyid ridha, misalnya mengartikan Ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.
b. Istilah Ta’dib
Menurut Ta’dib al-attas, istilah yang paling tepat dalam menunjukan pendidikan islam, adalah ta’dib, konsep ini berdasarkan pada hadits Nabi yang artinya:
“Tuhan telah mendidikku, maka ia sempurnakan pendidikanku”
(H.R. Al-As’ary dari Ali ra)
Berdasakan hadits tersebut, maka ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kedalam diri manusia, tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini, pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadian.
John Deway, pakar pendidikan dan filosof, merumuskan pendidikan secara pragmatis ialah” education to promote growth.” Apabila tujuan pendidikan adalah untuk menunjang pertumbuhan peserta didik, maka proses pendidikan ialah suatu proses untuk memperoleh kemampuan dan kebiasaan berfikir sebagai suatu kegiatan yang inteligen atau yong ilmiah dalam memecahkan berbagai masalah didalam kehidupan.
Berdasarkan study psikologi belajar yang baru serta sosiologi pendidikan, maka masyarakat pendidikan menghendaki agar pengajaran memperhatikan minat, kebutujhan dan kesiapan anak didik untuk belajar,
Tolak ukur yang lain adalah yang dinamakan tolak ukur kebutuhan relative perkeluarga, yang batasan-batasannya dibuat berdasarkan atas kebutuhan minimal yang harus dipenuhi guna sebuah keluarga dapat melangsungkan kehidupan secara sederhana tapi memadai sebagai warga masyarakat yang layak. Tercakupnya tolak ukur ini adalah kebutuhan-kebutuhan yang berkenaan dengan biaya sewa rumah dan mengisi rumah dengan peralatan rumah tangga yang sederhana tapi memadai, biaya untuk memelihara kesehatan dan untuk pengobatan, biaya untuk menyekolahkan anak-anak, biaya untuk sandang dan pangan sederhana tetapi mencukupi dan memadai.
Para ahli ilmu-ilmu social umumnya berpendapat bahwa sebab utama yang melahirkan kemiskinan ialah sistem ekonomi yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Sistem ekonomi ini tercermin dalam berbagai pranata yang ada dalam masyarakat tersebut, yaitu suatu sistem antara hubungan peran peranan dan norma-norma yang terorganisasi untuk usaha-usaha penentuan kebutuhan social utama yang dirasakan perlunya dalam masyarakat.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s